Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan geliat luar biasa dalam kultur berolahraga di Indonesia. Aktivitas fisik kini menjelma menjadi bagian dari gaya hidup urban, bahkan penanda dari identitas sosial. Mulai dari lari pagi, bersepeda, menjadi member gym, hingga olahraga yang lebih “eksklusif” seperti padel dan hyrox. Semua hadir sebagai simbol dari gaya hidup sehat yang modern dan progresif.
Tetapi di tengah euforia ini, jika kita lihat lebih dalam, muncul kecenderungan yang layak kita refleksikan bersama. Tidak sedikit dari masyarakat kita yang memulai hobi berolahraga karena kebutuhan tubuhnya, melainkan hanya karena dorongan tren semata. Fenomena fear of missing out (FOMO), membuat olahraga bergeser dari praktik kesehatan menjadi praktik sosial. Olahraga dilakukan sekedar agar tidak tertinggal dari yang lain.
Klik untuk melanjutkan membaca opini ini:
https://www.kompas.com/sports/read/2026/04/03/15171168/tubuh-bukan-tren-kritik-atas-euforia-olahraga-urban