Multisensory Stimulation Reduces Neuropsychiatric Symptoms and Improves Cognitive Function in Older Adults with Dementia.

Press/Media

Description

Summary: 

The article highlights that multisensory stimulation—an approach that engages multiple senses such as sight, sound, touch, and smell—can help reduce neuropsychiatric symptoms and enhance cognitive function in older adults with dementia. This type of therapy creates a calming and stimulating environment that supports emotional regulation, reduces agitation, and encourages memory-related brain activity. As a non-pharmacological intervention, multisensory stimulation is viewed as safe, supportive, and beneficial for improving the quality of life of individuals with dementia, making it a valuable complementary approach in dementia care.

 

Stimulasi Multisensorik Kurangi Gejala Neuropsikiatri dan Tingkatkan Fungsi Kognitif Lansia dengan Demensia

Demensia tak hanya menggerus daya ingat, tetapi juga membawa berbagai gejala neuropsikiatri yang mengganggu—mulai dari agitasi, depresi, hingga kecemasan yang menyiksa. Namun harapan baru datang dari pendekatan yang bersifat sederhana namun bermakna: stimulasi multisensorik. Sebuah meta-analisis terbaru yang melibatkan uji coba terkontrol secara acak (RCT) menunjukkan bahwa stimulasi multisensorik mampu mengurangi gejala neuropsikiatri sekaligus meningkatkan fungsi kognitif pada lansia yang hidup dengan demensia.

Dalam studi yang melibatkan 16 penelitian dan lebih dari seribu peserta, para peneliti—termasuk Hidayat Arifin dari Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga—menemukan bahwa stimulasi yang melibatkan berbagai indra seperti sentuhan, suara, cahaya, aroma, dan gerakan dapat memberikan efek signifikan terhadap kondisi neuropsikologis lansia. Pendekatan ini melibatkan terapi musik, aromaterapi, terapi boneka, aktivitas multisensorik terstruktur, hingga ruang Snoezelen yang dirancang khusus untuk menenangkan dan menstimulasi.

Menariknya, manfaat dari stimulasi multisensorik bukan hanya bersifat psikologis, tetapi juga berdampak pada peningkatan kognitif, termasuk daya ingat dan orientasi. Efek ini diduga terkait dengan aktivasi berbagai jalur otak secara simultan yang mendorong neuroplastisitas. Selain itu, pendekatan ini relatif aman, non-invasif, dan mudah diterapkan baik di rumah maupun di institusi perawatan jangka panjang, tanpa efek samping farmakologis.

Temuan ini menjadi titik balik penting dalam perawatan demensia. Para perawat, terapis okupasi, dan penyedia layanan kesehatan diharapkan mulai mengintegrasikan intervensi multisensorik ke dalam rutinitas perawatan lansia. Dengan demikian, kualitas hidup lansia dengan demensia dapat ditingkatkan secara nyata tanpa bergantung sepenuhnya pada obat-obatan. Harapan baru ini menunjukkan bahwa pendekatan yang humanistik dan sensorial bisa menjadi kunci dalam merawat mereka yang mengalami kehilangan paling mendasar: memori dan makna.

Penulis: Hidayat Arifin

Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga

Sumber:

Octary, T., Fajarini, M., Arifin, H., Chen, R., Sung, C. M., Chang, L. F., … & Chou, K. R. (2025). Multisensory stimulation reduces neuropsychiatric symptoms and enhances cognitive function in older adults with dementia: A meta-analysis of randomized controlled trials. The journal of prevention of Alzheimer’s disease, 100091. https://doi.org/10.1016/j.tjpad.2025.100091

Period24 Jul 2025

Media contributions

1

Media contributions

  • TitleStimulasi Multisensorik Kurangi Gejala Neuropsikiatri dan Tingkatkan Fungsi Kognitif Lansia dengan Demensia
    Country/TerritoryIndonesia
    Date24/07/25
    PersonsHidayat Arifin