Uttaraśabda: Konsep Keselamatan dan Akhir Zaman

Activity: Talk or presentation typesInvited talk

Description

Naskah Merapi-Merbabu koleksi Perpustakaan Nasional RI telah lama menjadi sorotan para peneliti dari dalam dan luar negeri. Naskah-naskah yang diciptakan di skriptoria (tempat penulisan naskah) di sekitar lereng Gunung Merapi dan Merbabu ini menggunakan aksara yang berkesan “arkais”, tidak seperti aksara Jawa yang dikenal saat ini. Aksara tersebut dikenal dengan aksara buda atau tulisan gunung.

Setidaknya ada sekitar 350-an naskah Merapi-Merbabu koleksi Perpustakaan Nasional. Salah satunya, Uttaraśabda yang memiliki lima varian teks. Variasi-variasi bacaan tersebut selanjutnya dapat menjadi tolak ukur bagaimana perubahan-perubahan pandangan masyarakat pengguna naskah.

Pembahasan tentang Uttaraśabda pada dasarnya membawa kita kepada salah satu karakteristik karya “tutur” yang berisi ajaran tentang teologi, kosmologi, dan soteriologi. Teks Uttaraśabda menguraikan pandangan _tentang situasi pada periode kehancuran (sanghara), di mana terjadi begitu banyak terjadi peperangan, wabah penyakit, serta bencana lainnya di alam manusia. Teks Uttaraśabda menjabarkan teori dan praktik, semuanya bermuara kepada konsep keselamatan (soteriologi) melalui praktik pembacaan mantra yang disebut “maweda”. Uttaraśabda menempati posisi penting sebagai teori untuk khasanah tekstual dalam koleksi Merapi-Merbabu yang kaya akan teks-teks mantra.

Karena itu, teks ini tidak bisa diabaikan ketika ingin melihat perubahan pandangan keagamaan yang terjadi secara paradigmatik (historis) maupun sintagmatik. Dan tentunya, yang terpenting, merekonstruksi kehidupan keagamaan masyarakat di lingkungan pengunungan Jawa yang selama ini masih belum diketahui secara utuh, khususnya di lingkungan skriptoria Merapi-Merbabu.

Diskusi kali ini akan mengulas lebih lanjut bagaimana isi teks Uttaraśabda. Diskusi ini merupakan sebuah pengantar dalam memantik hasrat para filolog, khususnya generasi muda, untuk melakukan penelusuran lebih lanjut “harta karun” yang terpendam dari naskah-naskah Merapi-Merbabu pada umumnya, dan teks Uttaraśabda pada khususnya. Atau, setidaknya, generasi muda menjadi sadar akan teks-teks di luar tradisi kerajaan, baik era Jawa Kuno maupun Jawa baru.
Period29 Aug 2019
Held atPerpustakaan Nasional Republik Indonesia
Degree of RecognitionNational

Keywords

  • Uttarasabda
  • Tutur
  • Merapi-Merbabu
  • Maweda
  • Soteriologi